PROLOG
Sebuah diskusi ringan bersama kawan mengenai kesuksesan Tim peneliti Indonesia yang berhasil mengembangkan teknologi bioremedial yang bisa berguna untuk mengatasi pencemaran di laut, telah menarik minat dan membuka mata saya untuk dapat memaknai arti kemerdekaan yg seutuhnya dalam bentuk tulisan dan gagasan. Bak oase di keringnya gurun pasir, prestasi tim peneliti Indonesia tsb patut diacungi jempol karena telah memberikan “kado” dihari ulang tahun yg ke 65 untuk Indonesia.

Dalam perjalanannya beragam cobaan telah dihadapinya. Indonesia Negara kepulauan terbesar didunia yg diapit oleh dua benua yakni asia dan Australia telah merasakan ratusan tahun hidup dalam belenggu penjajahan. 1945 merupakan tahun dimana Indonesia secara resmi memproklamirkan kemerdekaannya, kemudian jatuhnya soekarno pada tahun 1966 yg digantikan oleh era orde baru dibawah pemerintahan soeharto selama 32 tahun 1966-1988 hingga era reformasi yang berlangsung sampai saat ini. Sungguh sejarah Indonesia telah merangkumi sebuah tempo yang teramat panjang.
INDONESIA DI 65 TAHUN KEMERDEKAANNYA
Keterlibatan Indonesia dalam G20 merupakan hal yg relatif dapat dibanggakan dewasa ini. Hal ini wajar mengingat Indonesia menjadi satu-satunya anggota yang berasal dari Negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income country), yang seolah-olah disejajarkan dengan negara-negara industri maju (G8), Banyak pihak menyebut kehadiran Indonesia di forum G20 sebagai prestasi terbesar presiden kita saat ini selama memimpin republik indonesia.
Sejak dibentuknya G20 tahun 1999, peran Indonesia sebagai anggota sebenarnya tidak signifikan, tidak lebih hanya untuk memberi persetujuan terhadap rumusan kebijakan yang telah dibuat oleh Negara-negara maju (G7) dan Negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan China). Sekedar memberikan masukan bahwasanya agar peran serta, usul dan saran Indonesia dapat didengar apalagi dipertimbangkan dalam forum-forum internasional terhadap isu-isu global, seperti ekonomi dan perubahan iklim, maka ekonomi dan pertumbuhannya yang berkualitas adalah langkah konkret yang harus digarisbawahi agar rencana jangka panjang tersebut dapat terealisasi. Untuk mencapainya tentu dibutuhkan proses yg tidak singkat. Lalu akan timbulah pertanyaan apakah keterlibatan Indonesia dalam G20 membanggakan dan menjadi prestasi yang bisa dipersembahkan bagi rakyat Indonesia? Atau malah peran serta Indonesia dalam G20 justru menyengsarakan rakyat Indonesia? Rasanya akan termakan waktu semalaman suntuk atau bahkan lebih untuk memperdebatkan hal ini.
Dalam memaknai hari kemerdekaan ini saya lebih menitikberatkan fokus saya terhadap problematika klasik ekonomi Indonesia, harapannya tentu agar dapat memberikan sentilan dan sedikit pencerahan untuk rakyat Indonesia maupun pemerintah pada khususnya.
Ada tiga masalah struktural besar yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah kita, yakni sumber daya manusia yang menyangkut pendidikan dan kesehatan; serta pembenahan infrastruktur, baik yang bersifat fisik maupun non fisik, dan yang tak kalah pentingya adalah pembenahan kerangka kelembagaan. Ini merupakan tugas besar, karena dalam waktu bersamaan Indonesia harus mengatasi tiga masalah baru yang muncul akibat transformasi pasca krisis. Ketiganya adalah: (1) penurunan investasi riil; (2) penurunan daya saing; dan (3) pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang.
Merosotnya investasi (sektor) riil merupakan masalah besar karena hal inilah yang menentukan daya saing ekonomi nasional sehingga mendasari jatuh-bangunnya ekonomi dalam jangka menengah dan panjang. Jika dilihat pada proporsinya industri manufaktur dan pertanian adalah sektor yang langsung menentukan produktivitas nasional dan menghidupi banyak orang, ini menurut saya adalah hal yang teramat penting. Namun justru yang lebih berkembang adalah sektor finansial (perbankan, pasar modal) dan sektor teknologi tinggi (komunikasi seluler) yang meskipun nilainya besar, tapi tidak berhubungan langsung dengan produktivitas dan competitiveness sehingga pada akhirnya sedikit saja berhubungan dengan kesejahteraan mayoritas penduduk
Menilik pada perkembagan ekonomi dewasa ini, Dari waktu ke waktu, pola pertumbuhan ekonomi yang timpang terus berlangsung. Konsekuensi lanjutannya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tergolong berkembang ini justru mengambil pola khas negara maju. Sektor-sektor yang padat modal dan padat teknologi yang hanya melibatkan segelintir warga terdidik jauh meninggalkan sektor riil padat karya yang menjadi sumber hidup mayoritas penduduk. Pada gilirannya hal ini mengakibatkan pengentasan kemiskinan dan pengurangan angka pengangguran kian sulit dilaksanakan. Jumlah penganggur dan orang miskin tidak mungkin berkurang kalau lapangan kerja untuk mereka kian sempit. Hal ini turut dibuktikan oleh terus membesarnya sektor informal.
BUMN, meskipun dililit banyak masalah, merupakan aktor ekonomi yang dominan. Nilai buku asetnya saja separuh dari GDP. Dalam kedudukan sedominan itu, maka jika dapat dibenahi secara tuntas, BUMN akan menjadi lokomotif andalan perekonomian nasional.
Ada pun kunci jangka panjang untuk tampil sebagai negara maju adalah dengan membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap warga negara yang tersebar di semua daerah untuk mengerahkan daya kreasi dalam memanfaatkan potensi dan sumber daya masing-masing. Ini sesuai dengan hakikat pembangunan, bahkan kemerdekaan dan eksistensi kita sebagai sebuah bangsa, yakni sebagai “jembatan emas” untuk memakmurkan seluruh penduduk yang tersebar di berbagai daerah.
Seiring bertambahnya usia sudah sewajarnya bahwa kecerdasaan dan kedewasaan dapat menjadi bahan bakar jiwa guna meraih kesuksesaan. 65 tahun sudah Negara kita terbebas dari belenggu penjajahan namun pada hakikatnya Negara ini tak seutuhnya merdeka dari kemiskinan, pengangguran, korupsi, degradasi moral dan sebagainya. Kini sudah saatnya kita menatap jauh kedepan dan berlari untuk mengejar ketertinggalan. Namun sekali lagi hal ini tidaklah mudah. Tanpa usaha yg berimbang maka bak mimpi di siang bolong hal tersebut hanyalah sebuah khayalan utopis. Maka dari itu dengan berbagai koreksi dan introspeksi baik dari pemerintah maupun diri sendiri maka bukan mustahil bahwasanya pada masa yang akan datang Indonesia dapat menjadi pemain kunci alias bukan penonton dalam forum global maupun peta perekonomian dunia. Hingga dalam tiap perayaan kemerdekaannya seluruh rakyat negeri ini dapat merasakan esensi penuh dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
bung… kau sanggup membujang hidup tanpa wanita selama 43 tahun demi cita cita yang kau impikan… Jikalah kau hidup di zaman kami tak pelak kau akan dianggap seorang pencinta sesama jenis… Bagi orang sepertimu prinsip adalah harga mati yang tak dapat ditawar, sedang bagi yang hidup di zaman kami prinsip itu bergantung pada kompromi… Sanggup kau mempertahankan idealisme mu demi apa yang kau anggap benar… Hidup dalam keterasingan bukanlah jera yang kau dapat melainkan picu yang melesatkan peluru semangatmu… Tentu orang sepertimu akan menjadi orang gila yang asketik di zaman ini, karena bagi kami hidupmu adalah rentetan mimpi buruk yang sekuat tenaga akan kami hindari…
Bung… seandainya mampu kumiliki semangatmu…